
Ada kalimat yang sering terdengar, “Seribu kebaikan akan tertutup oleh satu kesalahan.” Awalnya terdengar berlebihan, bahkan agak menyakitkan. Tapi semakin dipikir, kalimat itu ternyata punya dasar yang cukup kuat bukan hanya secara sosial, tapi juga secara ilmiah.
Manusia memang punya kecenderungan aneh: mereka lebih mudah mengingat hal buruk daripada hal baik.Satu kesalahan kecil bisa menenggelamkan segala kebaikan yang pernah dilakukan. Seolah-olah ingatan dan perasaan kita diciptakan dengan keseimbangan yang cacat.
Para peneliti psikologi menyebut fenomena ini sebagai negativity bias. Otak manusia lebih peka terhadap informasi negatif. Saat kita menerima sesuatu yang buruk entah kritik, penolakan, atau kesalahan kecil otak langsung bereaksi lebih kuat dibanding saat menerima sesuatu yang baik. Dalam sebuah penelitian (Vaish, Grossmann & Woodward, 2008), ditemukan bahwa manusia sejak kecil sudah menunjukkan kecenderungan untuk lebih memperhatikan hal negatif. Bahkan studi neuroscience membuktikan, bagian otak yang merespons emosi negatif bekerja lebih intens dibandingkan dengan respon terhadap emosi positif.

Artinya, ketika seseorang melakukan kesalahan, hal itu lebih mudah melekat di kepala orang lain. Sebaliknya, kebaikan yang dilakukan berkali-kali bisa cepat dilupakan, karena otak tidak“memprosesnya” dengan intensitas yang sama. Akhirnya lahirlah dunia yang sering kali terasa tidak adil: satu kesalahan cukup untuk membuat orang lupa pada segala kebaikan yang pernah ada.
Namun, perlu juga disadari bahwa bukan berarti kebaikan tidak punya nilai. Ia hanya tidak sekeras “berteriak” seperti kesalahan. Mungkin karena dalam kebaikan, orang merasa tenang, sementara dalam kesalahan, orang merasa terguncang. Dan yang mengguncang, biasanya lebih diingat.
Di sisi lain, pemahaman ini seharusnya bukan membuat kita takut berbuat salah, tapi justru lebih bijak dalam menilai orang lain. Karena kalau semua orang menilai dengan kacamata “satu kesalahan menghapus segalanya”, maka tak akan ada ruang untuk tumbuh, belajar, dan memperbaiki diri. Dunia akan penuh orang yang pura-pura sempurna, tapi kehilangan keberanian untuk mencoba lagi.
Mungkin benar, satu kesalahan bisa menutupi seribu kebaikan di mata manusia. Tapi kalau dilihat lebih dalam, justru di sanalah keindahannya karena di antara kerapuhan itulah kita diuji untuk tetap berbuat baik, bahkan ketika tahu bahwa kebaikan kita bisa saja dilupakan kapan saja.
Dan mungkin, itu juga alasan mengapa kebaikan sejati tidak butuh pengakuan. Ia hanya butuh keikhlasan untuk tetap ada, meski tak selalu diingat.



