
Terindah lahir setiap pagi
saat embun jatuh tanpa suara
seperti rasa ini
datang, lalu menetap di dada
Aku mencintaimu setenang bumi
menyimpan akar dan hujan
tak meminta langit menjawab
cukup tahu ia menaungi
Rindu mengalir bagai jala
menuju muara yang tak bernama
tenang di permukaan
namun setia pada kedalaman
Dalam diam, prema bersemi
tak menuntut, tak bersyarat
aku belajar mencintai perlahan
seperti musim menunggu bunga
Terindah bukan tentang memiliki
melainkan menjaga rasa tetap hidup
meski tak pernah diucapkan
namun selalu pulang padamu.
Terindah bukan soal yang paling cantik, paling megah,
atau paling layak dipamerkan. Itu urusan mata.
Terindah justru urusan hati yang keras kepala.
Ia memilih satu hal, lalu menolak dibandingkan
dengan apa pun setelahnya.Yang terindah biasanya tidak sempurna.
Ia mungkin datang sebentar,
mungkin tak pernah dimiliki,
mungkin hanya singgah sebagai rasa.Tapi anehnya,
ia menetap paling lama.



