
Pernahkah merasa lelah karena harus selalu tampil "oke"? Sejak kecil, kita diajarkan untuk merayakan kemenangan, tapi diminta menyembunyikan luka. Kita memajang foto terbaik di media sosial, tapi menyimpan rapat-rapat isak tangis di bantal. Kita menjadi editor yang sangat kejam bagi hidup kita sendiri, memotong bagian-bagian yang kita anggap "jelek" agar layak dilihat orang lain.
Namun, jika kita merenungkan esensi dari lagu Everything U Are, ada sebuah pesan yang sangat sederhana namun menenangkan: Kita tidak harus utuh untuk menjadi berharga.
Hidup Bukanlah Sebuah Galeri
Kita sering terjebak berpikir bahwa diri kita adalah sebuah karya seni yang harus selalu dikurasi. Kita hanya ingin orang melihat kecerdasan kita, kebaikan kita, atau kesuksesan kita. Tapi kenyataannya, manusia adalah sebuah "paket lengkap".
Di dalam diri kita ada ambisi, tapi juga ada rasa malas yang luar biasa. Ada keberanian, tapi juga ada ketakutan yang membuat kaki gemetar. Ada momen di mana kita merasa seperti pahlawan, dan ada hari-hari di mana kita merasa seperti pecundang yang tidak tahu arah. Menariknya, identitas kita bukan cuma salah satunya. Kita adalah keduanya.
Keindahan di Balik Ketidakberdayaan
Ada sesuatu yang sangat jujur ketika seseorang berani menunjukkan rasa lelahnya. Saat mereka berani bilang, "Aku sedang tidak baik-baik saja," atau saat mereka terlihat berantakan setelah berjuang mati-matian.
Ada keindahan dalam keringat, dalam mata yang sembab, bahkan dalam kegagalan yang pahit. Kenapa? Karena itu adalah tanda bahwa kita benar-benar hidup. Kita bukan robot yang diprogram untuk selalu benar. Menjadi manusia berarti punya hak untuk merasa hancur, dan tetap diterima dalam keadaan hancur tersebut.
Berhenti Menjadi Hakim bagi Diri Sendiri

Seringkali, orang yang paling sulit menerima diri kita apa adanya adalah kita sendiri. Kita adalah hakim yang paling galak bagi kekurangan kita. Kita merasa tidak layak dicintai kalau sedang berantakan.
Lagu Everything U Are sebenarnya adalah sebuah pengingat bagi diri kita masing-masing: bahwa versi diri kita yang sedang "tidak cantik", yang sedang gagal, atau yang sedang merasa rendah, tetaplah bagian dari diri kita yang sah. Kita tidak perlu menunggu sampai sukses atau sampai "sembuh" untuk merasa berharga.
Penutup
Menjadi manusia yang utuh berarti berhenti memilah-milah bagian mana yang ingin kita akui. Semua yang ada padamu, ketakutanmu, masa lalumu, hingga sisi paling gelapmu adalah hal yang menjadikanmu "kamu".
Pada akhirnya, kita tidak perlu menjadi pahlawan setiap hari. Ada kalanya, kemenangan terbesar kita hanyalah keberanian untuk tetap ada, dengan segala lelah dan bau keringat yang menyertainya. Biarkan dunia melihat versimu yang paling jujur, bukan karena itu indah, tapi karena itu nyata. Sebab, di hadapan orang yang tepat (termasuk dirimu sendiri), segala yang ada padamu sudah lebih dari cukup untuk dirayakan.
Pada akhirnya, kedamaian bukan datang saat kita berhasil menghilangkan kekurangan, tapi saat kita bisa duduk tenang bersama kekurangan itu dan berkata: "Ini juga bagian dari perjalananku."

Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Untungnya, Bumi Masih Berputar.



